Semenjak pembekalan, sudah menjadi sugesti yang tertanam pada setiap mahasiswa. Bahwa multimedia adalah sarana yang akan meringankan guru dalam pengajaran. Memang baik menggunakan multimedia apalagi pihak sekolah sudah memfasilitasinya dengan lengkap. Alat ini akan mengurangi gerak kita yang mungkin bisa kita hemat. Sehingga kita tidak erlalu lelah dalam mengajar.
Action
Itu baru pembukaan dari guru cilikyang masih belum guru yang masih kuliah di Jurursan PBI STAIN Salatiga.
Memang menurut ku, multimedia memang alat atau bisa jadi asisten kita waktu ngajar. Tapi bukan menjadi sarana utama dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Ibnu Sina seorang ahli computer dan multimedia yang sering dipercaya temannya begitu, “Multimedia itu pembantu kita, Kita yang seharusnya menjadi tuannya. Jadi kita gak boleh tergantung sama pembantu, harusnya pembantu yang tunduk sama majikannya dan berharap untuk di pakey”.
Itu memang benar-benar ungkapan dari aku lho . . . .
Bahkan dalam realita pengajaran, Aku sendiri tidak menggunakan multimedia secara menerus terus. Aku sendiri lebih sering menggunakan buku, Spidol, sama Mulut. Pada intinya, aku sendiri lebih mengandalkan ketiga sahabat yang setia menemaniku. Meski sesekali aku menggunakan multimedia untuk nonton Pilem.
Di sisi lain aku terbilang seorang mengguna multimedia yang bisa diandalkan. Namun aku sendiri lebih memposisikan alat itu sebagai selingan atau cadangan yang simpel.
Di lain cerita, aku punya teman yang menjadi seorang pecandu. Dia pun mengalami ketergantungan terhadap barang halal itu. Lho kok halal . . . . ????
Ya halal lah . . . . wong dianya aja tergantung dan kecanduan sama multimedia.
Suatu ketika seorang rekan bersiap untuk mengajar di siang hari. Persenjataan sudah lengkap. Ada Laptop, LCD, Kabel VGA, ama PowerPoint. Tapi ada satu yang kurang, yaitu roll kabel yang sudah tak ada stok lagi. Dia pun mengajakku tuk memasang segala perangkat yang ia bawa. Sampai kepentok masalah Roll Kabel dia memaksa harus tetap di puasang. Meski kabel tak sampai, dia berusaha menyuruhku tuk menyorotkan LCD itu ke dinding samping.
Langkah ini pun gagal. Selanjurnya dia meminta menyorotkan ke papan tulis dari samping wal hasil. . . .
WELEH WELEH, GUAMBARE MIRING, GỀDE SEBELAH . . . .
Akhirnya seorang murid menyelamatkannya dengan mencarikan Roll Kabel. Entah bagai mana jadinya ia tanpa multimedia yang menjadi tempatnya bergantung . . . .
Suatu hari tanggal 07 Oktober 2010, di sebuah kelas yang terletak di ujung selatan di gedung paling pojok, tepatnya di kelas X-4. Hari itu ku temani dia, temanku yang mengajar Mapel Bahasa Indonesia dan ku bantu ia untuk memasang LCD yang hendak ia butuhkan untuk menampilkan slidenya…
Saat itu, jam pelajaran bahasa telah usai. Dia pun datang dengan dengan perutnya yang biasa sakit. Sedikit emosi yang meletup keluar dari dirinya. Tiba2 sebuah sebuah kalimat amarah yang di blender dengan emosi kluar dari mulutnya. Sebuah masalah tentang kesalahpahaman Antara Dina, Dimas, Fatma yang sedikit tahu tentang permasalahan itu dan juga seorang siswi dari kelas X-5. Mereka pun berdebat. Dan akhirnya akar emosi pun terungkap dari kelas yang barusan Dina ajar.
Di kelas itu, kelas paling ujung. Mereka meremehkan seorang temanku yang juga dalam proses belajar. Dan aku pun tahu apa yang sebenarnnya terjadi. Mereka mengabaikan dan mempermainkannya.
Hingga akhirnya kelas itu kosong dan seluruh isi kelas datang menghampiri. Mereka pun berusaha meminta maaf. Saat itu lah, Dina yang datang dengan mata sedikit bergetar. Saat siswa itu berucap, pecahlah air mata yang telah lama terbendung. Dia pun menagis dan membasahi mata yang telah lama kering.
Tak lama kemudian, Pembimbing kami Mr. Ah Ton datang karena permasaahan pelik yang dialami oleh Dimas. Namun kebetulan juga saat itu digunakan pula untuk menumpahkan segala perasaan yang mengganjal di hati dan pikiran.
Disaat waktu terus berputar, dia pun semakin bergetar ketakutan . . . .
Kala itu matahari terus cerya
ia menyinari SMA Pabelan. Salah seorang teman terlihat begitu bingung di hari itu. Sebut saja Dimas (memang nama sebenarnya). Dia begitu risau dengan waktu yang terus mengejarnya. Dia pun bingun bagaimana ia harus mengajar nanti.
Kebingungan itu berdasar atas beberapa hal seperti penguasaan materi. Kuliah ia mendatangi seorang gadis tuk diajari tentang materinya. Tak hanya itu, ke-grogiannya bertambah ketika pamong dan murid2nya yang megitu kritis saat dia mengajar. Dan kini dia pun harus berjumpa lagi. Wah mumet akuw.... Aku metu weh.... kurang lebih kalimat itu yang sering kali ia ucapkan dan menjadi mantra andalannya.
Di hari itu, di hari senin minggu kedua ku berada di sana. Itu adalah hari dimana seorang Guru Dadakan memulai aksinya…
Saat itu, dia langkahkan kaki setapak demi setapak hingga akhirnya langkah terakhir menuju lautan yang tegang. Di siang itu, seusai waktu dhuhur, aku pun beranikan diri menyelami lautan itu.
Langkah tegap dengan modal nekat, berjalan tertatih dan terbata dalam ucap. Aku pun mulai mengajar di hari itu.
“Assalamu’alaikum, gut morning epri badi…… (Good Morning Everybody?)”
“Today we will study about, about, about, , , , NARRATIVE text”
“B.. But, before we start our study, I will check your present….”
Dengan suara terbata itu, Ku mulai pelajaran. Kepalaku seakan menjadi batu dan terasa berat. Keringat pun mengucur dari keningku seakan otakku diperas hingga cirannya mengalir keluar.
Kegaduhan mulai terjadi, namun ku berlagak cuek dan tak menghiraukannya. Pikirku segera kuselesaikan hal ini, segera ku habiskan waktu ini.
Waktu pun mengikuti keinginanku dan bergulir, berputar. Hingga bel tanda selesai pelajaran usai. Dengan masih tetap dalan bahasa terbata, ku akhiri pertemuan kali ini. Namun mereka sudah MRITHILIdan hantinggal beberapa saja yang keluar terakhir dan bersalaman denganku….
Pikirku dalam hati, wah BUANJIR… BUANJIR KRINGET….!!!!
Namun akhirnya PLONG juga setelah mengajar, dan ku pun libur sembari menunggu pertemuan berikutnya di hari Rabu esok dan hanya 1 jam pelajaran. See you Wednesday…..
Rabu, tanggal 22 September 2010. Di saat itulah hari pertama kita diterima dan mulai memenuhi kewajiban untuk praktik di SMA N 1 Pabelan. Kami bersama dosen pembimbing Mr. Ah Ton (Ahmad Sultoni) datang pagi2 tuk bersiap untuk upacara penerimaan. Beberapa jam kami menunggu untuk waktu itu. Hingga upacara penerimaan pun dimulai pada pukul 09.00 WIP (Waktu Indonesia Pabelan). Dan acara pun berpindah dari Upacara menjadi pembagian guru pamong.
Di sesi ini Mr. Head Master ato sebut aja Kepsek, juga meminta seorang mahasiswa. Sehingga jumlah guru pamong yag tadinya 4 orang, kini menjadi 5 orang. Kelima orang tersebut terbagi menjadi 4 orang mahasiswa untuk seorang Guru PAI, 2 orang mahasiswa bersama Seorang guru yang mengampu mapel Bahasa Indonesia dan PKn. Dan sisanya ada 3 orang guru lagi termasuk Mr. Kepsek. Semua itu ditentukan dengan cara mengundi.
Dari sisa 3 orang guru pamong itu di bagi untuk 4 orang mahasiswa. Mr. Kepsek yang bersama temanku Fatma. Dan ketika ku lihat Ibu miftah, dan jumlah yang tak imbang aku pun berharap tanpa berfikir untuk hal yang negative. Dalam harapku, aku ingin ada yang menemaniku. Dan akhirnya aku pun mendapati keinginanku itu. Akubersama Azis mendapatkan Guru Pamong yang bisa dibilang masih tanda Tanya. Namun seorang teman bersama Dimas yang sering kali menggunakan pikirannya yang negative, memikirkan kalau guru itu sulit dan menyeramkan. Dan di akhir cerita, dia pun berjodoh dengan guru yang serem katanya. Mungkin dalam hati dia bergumam Wah Asem Ik . . . .