Pages

Sunday, October 24, 2010

Pecandu Multimedia dan Ketergantungan


Prolog
Semenjak pembekalan, sudah menjadi sugesti yang tertanam pada setiap mahasiswa. Bahwa multimedia adalah sarana yang akan meringankan guru dalam pengajaran. Memang baik menggunakan multimedia apalagi pihak sekolah sudah memfasilitasinya dengan lengkap. Alat ini akan mengurangi gerak kita yang mungkin bisa kita hemat. Sehingga kita tidak erlalu lelah dalam mengajar.
Action
Itu baru pembukaan dari guru cilik yang masih belum guru yang masih kuliah di Jurursan PBI STAIN Salatiga.
Memang menurut ku, multimedia memang alat atau bisa jadi asisten kita waktu ngajar. Tapi bukan menjadi sarana utama dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Ibnu Sina seorang ahli computer dan multimedia yang sering dipercaya temannya begitu, “Multimedia itu pembantu kita, Kita yang seharusnya menjadi tuannya. Jadi kita gak boleh tergantung sama pembantu, harusnya pembantu yang tunduk sama majikannya dan berharap untuk di pakey”.
Itu memang benar-benar ungkapan dari aku lho . . . .
Bahkan dalam realita pengajaran, Aku sendiri tidak menggunakan multimedia secara menerus terus. Aku sendiri lebih sering menggunakan buku, Spidol, sama Mulut. Pada intinya, aku sendiri lebih mengandalkan ketiga sahabat yang setia menemaniku. Meski sesekali aku menggunakan multimedia untuk nonton Pilem.
Di sisi lain aku terbilang seorang mengguna multimedia yang bisa diandalkan. Namun aku sendiri lebih memposisikan alat itu sebagai selingan atau cadangan yang simpel.
Di lain cerita, aku punya teman yang menjadi seorang pecandu. Dia pun mengalami ketergantungan terhadap barang halal itu. Lho kok halal . . . . ????
Ya halal lah . . . . wong dianya aja tergantung dan kecanduan sama multimedia.
Suatu ketika seorang rekan bersiap untuk mengajar di siang hari. Persenjataan sudah lengkap. Ada Laptop, LCD, Kabel VGA, ama PowerPoint. Tapi ada satu yang kurang, yaitu roll kabel yang sudah tak ada stok lagi. Dia pun mengajakku tuk memasang segala perangkat yang ia bawa. Sampai kepentok masalah Roll Kabel dia memaksa harus tetap di puasang. Meski kabel tak sampai, dia berusaha menyuruhku tuk menyorotkan LCD itu ke dinding samping.
Hasilnya  WAH GUEDE BUANGET GAMBARNYA, KEPOTONG JENDELA LAGI . . . .
Langkah ini pun gagal. Selanjurnya dia meminta menyorotkan ke papan tulis dari samping wal hasil. . . .
WELEH WELEH, GUAMBARE MIRING, GDE SEBELAH . . . .
Akhirnya seorang murid menyelamatkannya dengan mencarikan Roll Kabel. Entah bagai mana jadinya ia tanpa multimedia yang menjadi tempatnya bergantung . . . .

No comments:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar